Showing posts with label makanan. Show all posts
Showing posts with label makanan. Show all posts

Sunday, 7 September 2014

34 Jenis Makanan Diduga Mengandung Zat Kimia

34 Jenis Makanan Diduga Mengandung Zat Kimia
BPOM melakukan inspeksi mendadak kandungan kimiawi pada makanan yang beredar di Pasar Senen Jakarta, Senin (7/9). Jelang Lebaran, pemerintah melalui BPOM mulai mengintensifkan pengawasan peredaran bahan makanan. Foto: TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.COPurwokerto -- Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menemukan 34 jenis makanan yang diduga mengandung zat kimia. Menjelang Lebaran, makanan kedaluwarsa dan mengandung zat kimia diduga semakin banyak beredar di pasaran.

"Jumlahnya semakin meningkat sehingga masyarakat harus lebih waspada," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Pengendalian Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Banyumas Ronin Hidayat, Selasa, 7 Agustus 2012.

Ronin mengatakan, selain melakukan pengecekan makanan kedaluwarsa menjelang Lebaran, Dinas juga mengambil contoh makanan yang dicurigai mengandung zat kimia berbahaya. Hasil pantauan selama ini, Dinas telah mengambil 34 jenis makanan yang dicurigai mengandung zat kimia di titik lokasi yang berbeda. Zat kimia berbahaya yang dimaksud adalah Rodhamin B, Formalin, Borax dan Cemaran Mikroba.

Ia menambahkan, Dinas mengambil contoh makanan di sejumlah lokasi berbeda, mulai dari pasar tradisional, toko, minimarket, KUD, hingga di tempat-tempat keramaian lain. Ronin mengatakan, Rodhamin B adalah zat kimia berbahaya yang dicampur di dalam makanan. Efeknya menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Konsumsi makanan mengandung Rodhamin B dalam waktu lama bisa membuat gangguan fungsi hati. Ciri-ciri makanan ini yang mengandung Rodhamin B berwarna merah cerah dan menarik. Biasanya digunakan dalam bahan makanan ringan, sirup dan kerupuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Widayanto, mengatakan, formalin juga sangat berbahaya bagi kesehatan. “Di antaranya menyebabkan rasa terbakar pada tenggorokan, kelainan genetika pada manusia, dan kanker hidung. Jenis makanan mengandung formalin biasa ditemukan di ayam potong bertekstur kencang, mi tidak lengkat dan tidak mudah putus, ikan asin berwarna bersih dan cerah, tahu kenyal namun tidak padat, insang ikan segar berwarna merah tua bukan merah segar,” kata Widayanto mengingatkan bahaya makanan yang berformalin.

Masih menurut Widayanto, formalin bisa membuat makanan tidak rusak sampai tiga hari pada suhu 35 derajat. Dan bertahan lebih dari 15 hari pada lemari es. Karena itu, makanan mengandung formalin sangat berbahaya.

Ia menyebutkan, operasi makanan akan terus dilakukan hingga Lebaran. Selain menemukan makanan kedaluwarsa, Dinas juga menemukan makanan yang tidak ada izin edarnya. “Sebagai tindak lanjut dari penemuan ini, kami langsung meminta kepada pemilik toko agar mengembalikan makanan yang kedaluwarsa. Sementara untuk makanan yang mengandung zat berbahaya, akan diberi peringatan dan tindak lanjut tersendiri,” katanya.

Bahan-bahan Kimia Berbahaya di Dalam Makanan

Bahan-bahan Kimia Berbahaya di Dalam Makanan

Sering tidak kita sadari bahwa dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari ternyata mengandung zat-zat kimia yang bersifat racun, baik itu sebagai pewarna, penyedap rasa dan dan bahan campuran lain. Zat-zat kimia ini berpengaruh terhadap tubuh kita dalam level sel, sehingga kebanyakan kita akan mengetahui dampaknya dalam waktu yang lama.

Dampak negatif yang bisa terjadi adalah dapat memicu kanker, kelainan genetik, cacat bawaan ketika lahir, dan lain-lain. Tidak ada cara untuk menghindar 100% dari bahan-bahan kimia itu dalam kehidupan kita sehari-hari, yang perlu kita lakukan adalah meminimalkan penggunaannya sehingga tidak melewati ambang batas yang disarankan. Karena selain banyak tersedia di pasaran, bahan-bahan tersebut juga harganya yang relatif sangat murah.

Berikut adalah contoh bahan-bahan yang bersifat racun yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari :
1. Sakarin (Saccharin)
Sakarin adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis, kira-kira 550 kali lebih manis dari pada gula biasa. Oleh karena itu ia sangat populer dipakai sebagai bahan pengganti gula. Tikus-tikus percobaan yang diberi makan 5% sakarin selama lebih dari 2 tahun, menunjukkan kanker mukosa kandung kemih (dosisnya kira-kira setara 175 gram sakarin sehari untuk orang dewasa seumur hidup).

Sekalipun hasil penelitian ini masih kontroversial, namun kebanyakan para epidemiolog dan peneliti berpendapat, sakarin memang meningkatkan derajat kejadian kanker kandung kemih pada manusia kira-kira 60% lebih tinggi pada para pemakai, khususnya pada kaum laki-laki. Food and Drug Administation (FDA) Amerika menganjurkan untuk membatasi penggunaan sakarin hanya bagi para penderita kencing manis dan obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram setiap harinya.’

2. Siklamat (Cyclamate)

Siklamat adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan kira-kira 30 kali lebih mains dari pada gula tebu (dengan kadar siklamat kira-kira 0,17%). Bilamana kadar larutan dinaikkan sampai dengan 0,5%, maka akan terasa getir dan pahit. Siklamat dengan kadar 200 mg per ml dalam medium biakan sel leukosit dan monolayer manusia (in vitro) dapat mengakibatkan kromosom sel-sel tersebut pecah. Tetapi hewan percobaan yang diberi sikiamat dalam jangka lama tidak menunjukkan pertumbuhan ganda. Di Inggris penggunaan siklamat untuk makanan dan minuman sudah dilarang, demikian pula di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat.

3. Nitrosamin

Sodium nitrit adalah bahan kristal yang tak berwama atau sedikit semu kuning. Ia dapat berbentuk sebagai bubuk, butir-butir atau bongkahan dan tidak berbau. Garam ini sangat digemari, antara lain untuk mempertahankan warna asli daging serta memberikan aroma yang khas seperti sosis, keju, kornet, dendeng, ham, dan lain-lain. Untuk pembuatan keju dianjurkan supaya kandungan sodium nitrit tidak melampaui 50 ppm, sedangkan untuk bahan pengawet daging dan pemberi aroma yang khas bervariasi antara 150 – 500 ppm. Sodium nitrit adalah precursor dari nitrosamines, dan nitrosammes sudah dibuktikan bersifat karsinogenik pada berbagai jenis hewan percobaan. Oleh karena itu, pemakaian sodium nitrit harus hati-hati dan tidak boleh melampaui 500 ppm. Makanan bayi sama sekali dilarang mengandung sodium nitrit.

4. Zat Pewarna Sintetis

Dari hasil pengamatan di pasar-pasar ditemukan 5 zat pewarna sintetis yang paling banyak digemari di Indonesia adalah warna merah, kuning, jingga, hijau dan coklat. Dua dari lima zat pewarna tersebut, yaitu merah dan kuning adalah Rhodamine-B dan metanil yellow. Kedua zat pewarna ini termasuk golongan zat pewarna industri untuk mewarnai kertas, tekstil, cat, kulit dsb. dan bukan untuk makanan dan minuman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kedua zat warna tersebut kepada tikus dan mencit mengakibatkan limfoma. Selain itu, boraks, juga merupakan zat pewarna favorit yang sering digunakan oleh produsen makanan.

5. Monosodium Glutamat (MSG) 

Monosodium glutamat (MSG) atau vetsin adalah penyedap masakan dan sangat populer di kalangan para ibu rumahtangga, warung nasi dan rumah makan. Hampir setiap jenis makanan masa kini dari mulai camilan untuk anak-anak seperti chiki dan sejenisnya, mie bakso, masakan cina sampai makanan tradisional sayur asam, lodeh dan bahkan sebagian masakan padang sudah dibubuhi MSG atau vetsin. Pada hewaan percobaan, MSG dapat menyebabkan degenerasi dan nekrosi sel-sel neuron, degenerasi dan nekrosis sel-sel syaraf lapisan dalam retina, menyebabkan mutasi sel, mengakibatkan kanker kolon dan hati, kanker ginjal, kanker otak dan merusak jaringan lemak.
Bahaya di Masa Mendatang

Dari beberapa contoh bahan kimia beracun yang sehari-hari dipergunakan sebagai zat tambahan dalam makanan dan dipakai secara meluas di kalangan masyarakat, maka bahaya dalam jangka panjang sudah dapat perkirakan. Untuk mencegah hal ini, pemerintah harus sudah berani melakukan tindakan preventif mulai sekarang dan jangan menunggu-nunggu kalau sudah ada korban.

Hal lain yang perlu diingatkan, cara pemakaian MSG atau vetsin yang sudah sangat meluas dan berlebihan pada saat ini perlu mendapat perhatian khusus, karena MSG sangat mutagenik dan karsinogenik, khusus terhadap hati, kolon, ginjal, otak dan lain-lain.

sumber: http://aksesdunia.com/2012/02/11/bah...#ixzz1m3Ua03Sy
aksesdunia.com